Thursday, August 10, 2023

Nasib Kolektor Uang Kuno di Masa Depan

Uang sebagai alat pembayaran yang selama ini telah kita pakai, di masa depan akan mengalami banyak perubahan. Uang yang saat ini berupa fisik secara perlahan dan pasti akan digantikan dengan non fisik berupa digital. Pemerintah pun mendorong percepatan perpindahannya karena amat sangat membantu dan menghemat biaya. Bayangkan berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk merancang, membuat, mencetak, menyalurkan, mensosialisasi, mengawasi sampai menarik dan memusnahkan uang yang berupa fisik. Nilainya menurut Merdeka.com di tahun 2012 mencapai 160 triliun per tahun dengan kenaikan 10% per tahun. Luar biasa bukan.

Bandingkan dengan uang digital yang tidak perlu dicetak sehingga amat sangat mengurangi biaya. Untuk saat ini saja dari gaji yang kita terima dalam bentuk transfer antar bank, lalu kita belanjakan juga dalam bentuk transfer menggunakan berbagai platfom yang ada seperti Qris, Gopay, Dana, Ovo dsb. sehingga kita tidak memerlukan lagi uang dalam bentuk fisik sebanyak waktu2 sebelumnya. Apalagi kalau semua pedagang kecil/kaki lima/UMKM sudah bisa menerima pembayaran digital, maka praktis uang dalam bentuk fisik tidak akan diperlukan lagi. Beban negara untuk mencetak uang menjadi banyak berkurang.

Dengan demikian uang dalam bentuk fisik secara pelan dan pasti akan musnah digantikan dengan uang digital yang tidak berwujud. Lalu bagaimana dengan nasib para kolektor uang kuno?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita lihat nasib  yang dialami para kolektor kartu telepon dan perangko.

Banyak dari kita di era tahun 1990an yang menggunakan kartu telepon, waktu itu telepon genggam belum ada sehingga kita menggunakan telpon umum sebagai sarana komunikasi. Beberapa telepon umum tidak menggunakan coin tetapi kartu telepon.

Deretan telepon umum kartu

Untuk itu dicetak beragam kartu telepon dengan beragam gambar dan nominal. Setiap kali dipakai saldo akan berkurang dan bila telah habis tidak dapat diisi kembali. Terdapat banyak sekali jenis kartu telepon, ada yang dicetak banyak/masal tetapi ada juga yang sangat langka. Terutama yang bernominal besar atau yang diterbitkan dalam peristiwa tertentu.

Kartu telepon yang diedarkan oleh salah
satu partai peserta pemilu th 1992


Contoh beberapa kartu telepon lainnya

Kartu telepon bukan hanya dipakai di Indonesia saja, tetapi negara-negara lain seperti Singapura, China, Arab, Amerika Serikat, Rusia  dan ratusan negara lainnya dari seluruh dunia ikut mencetak kartu telepon.  Banyak perusahaan besar seperti hotel, bank, restoran bahkan outlet setaraf Dunkin Donuts pun ikut2an mencetaknya,

Kartu telpon Hotel Ciputra dan kartu telpon Dunkin Donuts


Beberapa dirancang dengan sangat indah sehingga menimbulkan rasa sayang kalau dibuang. Sehingga mulailah bermunculan kolektor2 kartu telepon.
 

Set kartu telepon kesenian dari China

Sepasang kartu telepon bergambar beruang kutub yang berpelukan


Booming kolektor kartu telepon bermunculan di seluruh dunia. Mereka saling berburu berbagai kartu telepon langka mancanegara, bahkan yang bekas pun tetap dicari. Komunitas kolektor pun bermunculan. Ada yang mengumpulkan  ribuan bahkan sampai ratusan ribu jenis kartu. Ada yang berdasarkan nama negara, ada yang berdasarkan seri, tema gambar, nominal dsb. Harga kartu telepon pun melonjak drastis, bisa berkali kali lipat nominalnya. 

Di tengah-tengah masa kejayaannya yang belum terlalu lama, tiba-tiba muncul telepon genggam. Satu persatu pengguna telepon umum menghilang digantikan telepon genggam, kejayaan telepon umum pun perlahan sirna menuju kemusnahan total. Sebagimana teleponnya, nasib kartu telepon pun sama, hilang ditelan kemajuan jaman. Kolektornyapun hilang satu persatu, Harga kartu telepon pun menurun drastis sampai saat ini menjadi tidak ada harganya sama sekali. Sekarang kolektor yang tersisa hanya hitungan jari saja. Dapat diperkirakan kedepannya mereka akan musnah semua. Tidak ada penerus karena tidak ada generasi muda yang mengetahui dan mengenal akan telepon umum kartu. Saat ini jangankan kartunya,  pesawat teleponnya saja sudah tidak ada. Kabar terakhir telpon umum kartu di Jakarta hanya tersisa 2 buah saja, itupun hanya sebagai hiasan, tidak bisa digunakan lagi.

Nasib yang hampir mirip juga dialami oleh kolektor perangko. Dengan kemajuan jaman, perangko yang sudah dikenal selama ratusan tahun hilang dalam sekejab digantikan aplikasi sosmed seperti Whatsapp, Instagram, Facebook dll. Coba anda tanya anak2 muda era 2000an, mereka pasti sudah tidak ada lagi yang mengenal perangko, bahkan banyak yang tidak pernah melihat fisiknya lagi. Mereka tidak pernah lagi mengirim surat dengan menggunakan perangko, cukup ketik dan tekan send di Whatsapp, surat kita akan sampai dalam sekejab. Tidak perlu menunggu berminggu-minggu lagi seperti jaman sebelumnya Kata orang, kalau lihat saja belum pernah bagaimana bisa sayang? Jangankan mengoleksinya melihat dan memakainya saja gak pernah.
Karena tidak ada penerusnya, maka kolektor yang ada sekarang akan makin berkurang sehingga dapat dipastikan dalam beberapa puluh tahun kedepan sudah tidak ada lagi yang tersisa. Perangko hanya jadi kenangan masa lalu yang tidak ada harganya dan sudah tidak dipedulikan lagi. Dan mungkin istilah filateli hanya bisa ditemukan dalam kamus saja, tidak ada pengikutnya lagi.

25 jenis perangko hanya dihargai Rp50.000 saja di online store


Sekarang kembali kepertanyaan besar kita, bagaimana dengan nasib kolektor uang kuno di masa depan? Uang tentu agak berbeda bila dibanding dengan kartu telpon ataupun perangko, uang adalah benda yang memiliki nilai khusus dan sangat melekat dengan kehidupan manusia. Manusia bisa hidup tanpa kartu telepon ataupun perangko, tetapi tidak bisa hidup tanpa uang. Jadi walaupun uang secara fisik sudah berubah bentuk menjadi digital tetapi keterikatan yang erat tidak mudah untuk dilupakan, setidaknya untuk beberapa puluh tahun kedepan. Jadi untuk teman-teman para kolektor, jangan terlalu pesimis akan masa depan. Perubahan uang fisik menjadi digital selain masih membutuhkan waktu yang cukup lama juga tidak gampang dilupakan sebagaimana kartu telepon dan perangko. Untuk itu sudah menjadi kewajiban kita untuk membina para pemula agar mencintai uang kuno sehingga ada penerusnya dan ikut melestarikannya, jangan meremehkan mereka, apalagi menipunya. Jangan kolektor uang kuno bernasib sama seperti kolektor kartu telepon ataupun perangko yang tamat ceritanya hanya dalam waktu singkat. 

Bravo numismatik, semoga panjang usia dan selalu dikenang sampai selama-lamanya.
Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com atau 08159988188



  

No comments: