Tuesday, April 22, 2014

1948 (seri ORI IV)

Seri ORI IV ini terdiri dari pecahan2 yang sangat ganjil nominalnya, yaitu: 40 rupiah, 75 rupiah, 100 rupiah Hatta, 400 rupiah dan masterpiece nya uang kertas Indonesia, salah satu uang kertas kita yang terlangka sekaligus termahal yaitu 600 rupiah unissued.
Semua ORI IV bertanggal Jogjakarta 23 Agustus 1948 dan ditandatangani oleh Drs. Mohammad Hatta. Pengaman yang digunakan adalah kode kontrol pada nomor serinya.
.
Pecahan 40 rupiah
Adalah pecahan yang terkecil dan termurah dari seri ini. harga berkisar diangka Rp. 100 ribu perlembar untuk kondisi EF dan Rp. 400 ribu untuk UNC.

 
Pecahan 40 rupiah 1948 ORI IV



Pecahan 75 rupiah

Sangat sulit ditemukan baik dalam kondisi biasa apalagi dalam kondisi baik. Terdiri dari dua variasi nomor seri yaitu 5 angka dan 6 angka. Harga perlembar sudah mencapai sekitar 3-4 juta rupiah.


Pecahan 75 rupiah 1948 ORI IV
Pecahan 100 rupiah (Hatta)
Bergambar sangat mirip dengan pecahan yang sama pada seri ORI III, tetapi berbeda tanda tangan, warna nomor seri dan warna bagian belakang. Perhatikan dan pelajari bedanya. Harga sekitar separuh dari yang bertandatangan Maramis yaitu berkisar diangka 2 juta rupiah perlembar. Pengaman yang digunakan berupa kode kontrol pada nomor serinya.


Pecahan 100 1948 ORI IV (Hatta)
.
.


Pecahan 400 rupiah

Merupakan pecahan yang paling banyak palsunya, sedemikian banyaknya sampai sulit sekali menemukan yang asli. Rahasia untuk mengenal yang asli terdiri dari dua cara. Pertama dengan pengamatan visual, bagi seorang ahli dengan sekali pandang akan mengetahui mana yang asli dan mana yang palsu. Cara kedua yang lebih akurat adalah dengan memperhatikan nomor serinya. Untuk lengkapnya kode rahasia nomor seri ORI dapat dibaca di:

Versi berbahasa Inggris = http://home.kpn.nl/huism494/orisecretcoding.html

Versi berbahasa Belanda = http://home.planet.nl/~huism494/origeheimecoderingen.html

Versi berbahasa Indonesia seperti yang termuat dalam Buletin ANI Jakarta edisi kedelapan (Februari 2009)


Pada website tersebut dijelaskan secara gamblang kode rahasia pada uang ORI, walaupun ada beberapa kekurangan tetapi website tersebut sudah lebih dari mencukupi. Bagi para kolektor yang berminat mengoleksi seri ORI wajib untuk membaca habis seluruh isi website tersebut. Buat salinannya bila perlu dan bawa kemanapun kalian pergi sehingga mudah bila ingin memeriksa keaslian uang kertas ORI.
Satu hal yang patut diperhatikan adalah: kenapa peneliti sekaligus penulisnya adalah orang Belanda? Mengapa orang Indonesia sendiri tidak ada yang melakukan penelitian seperti itu? Padahal uang yang diteliti adalah uang negara kita sendiri.




Pecahan 400 rupiah 1948 ORI IV (asli)
Harga perlembar yang asli sekitar 3-4 kali yang palsu yaitu berkisar diangka Rp.500 ribu untuk kondisi EF s/d Rp.1 juta rupiah perlembar untuk kondisi UNC. Sedangkan yang palsu berharga sekitar Rp.200 ribuan perlembar UNC.



Pecahan 400 rupiah 1948 ORI IV (palsu), perhatikan warna, gambar dan nomor serinya.
Pecahan 600 rupiah ORI IV (unissued)
Pecahan ini ditemukan secara tidak sengaja dan terdiri dari satu lembar besar berisi 12 lembar uang ini dalam bentuk yang belum terpotong. Tercetak hanya pada satu sisi. Kemudian lembar besar tersebut dipotong2 menjadi 12 lembar dengan komposisi 6 lembar memiliki tepi (margin) yang bertulisan ENR dan 6 lembar tidak memiliki tepi. Karena hanya terdiri dari 12 lembar maka ORI 600 bernilai sangat mahal dan hampir tidak pernah beredar di pasaran. Pada lelang terakhir uang ini bernilai sekitar Rp. 35 juta rupiah perlembar. Karena langka dan mahal tentu saja banyak versi palsunya.



Pecahan ORI 600 rupiah tanpa margin



Pecahan ORI 600 rupiah dengan margin


.


Pecahan ORI 600 rupiah palsu
.
Kesimpulan seri ORI IV :
1. Terdiri dari pecahan yang bernominal ganjil
2. Walaupun cuma terdiri dari 5 pecahan tetapi sangat sulit melengkapinya
3. Terdapat pecahan terlangka dari seluruh uang kertas Indonesia yaitu ORI 600
4. Terdapat bentuk palsunya, harap pelajari rahasia kode kontrolnya
.
.

Kritik dan saran harap hubungi: arifindr@gmail.com

No comments: