Friday, July 21, 2023

Renungan

Anda seorang kolektor, seorang numismatist. Dari kecil sampai tua menghamburkan waktu dan uang untuk membeli uang-uang kuno idaman. Sebagian dijual untuk mendapatkan sedikit keuntungan, sebagian di tukar tambah, sedangkan sebagian besar tentu tetap disimpan.
Disimpan.. disimpan.........................terus selama bertahun-tahun.
Kadang setelah bertahun-tahun disimpan, barang koleksi anda dikeluarkan dari album untuk dilihat-lihat sebentar, diingat-ingat kembali, mungkin sedikit kaget karena barang yang dikira belum punya ternyata sudah bertahun2 mendiami album anda. Mungkin ada yang mau anda jual tetapi bingung karena lupa dengan harga belinya. 

Lalu anda terus menghamburkan uang, menambah barang2 yang belum dimiliki atau yang lebih bagus kondisinya, saling bersaing di lelang, saling sikut atau saling merayu, saling membujuk atau saling menjelekkan. Kadang menjadi kawan dengan saling kerjasama, kadang terbalik menjadi lawan yang saling bersaing dan saling menipu. Beribu cara lainnya dipergunakan baik halal maupun busuk demi mendapatkan barang idaman. Akhirnya jangan heran bila anda tidak memiliki teman di bidang ini, yang ada musuh dan lawan.

Puluhan tahun kemudian, anda mulai menua, barang koleksi menumpuk beralbum-album (kalau rajin dirapikan) atau ber dus-dus (kalau malas merapikan). Catatan harga beli, tanggal beli dan hal2 penting lainnya yang tadinya rajin dibuat sudah hilang entah kemana. Yang tertinggal cuma harga kira-kira yang terekam sekedarnya di otak yang mulai menciut. Walau demikian semangat dan sifat serakah masih tetap ada, anda tetap berburu dan masih saja berusaha menumpuk. "Mumpung masih hidup" kata anda.

Akhirnya sampailan anda diujung jalan kehidupan. Bisa jadi sesuai dengan yang kita semua harapkan, anda sakit cuma sebentar saja, lalu terbang pindah ke alam lain. Atau anda pergi secara mendadak, pagi masih pergi kerja, sore sudah tidak pulang lagi karena nyawa anda nyangkut di trotoar akibat kesambar truk. Tetapi bisa juga anda pindah dengan susah payah, penuh perjuangan dan derita berkepanjangan, bertahun-tahun disiksa oleh stroke, kanker, cuci darah dan sejuta penyakit lainnya. Yang manapun kejadiannya sayangnya kita tidak bisa memilih. Cuma nasib yang menentukan. Cerita andapun selesai. Tamat.

Tetapi cerita barang-barang ex koleksi anda baru dimulai...........

Bila selama anda hidup, anda tidak membuat catatan yang rapi dan tidak meninggalkan pesan apapan kepada penerus anda maka jangan heran bila barang2 anda akan berakhir di tukang loak keliling, atau di penjual kaki lima di pasar baru, atau lebih miris lagi dibuang dan dibakar karena dianggap tidak bernilai.

Saya sudah berpuluh-puluh kali memborong barang2  peninggalan kolektor yang pensiun atau yang sudah meninggal dunia. Sebagian kecil saja yang meninggalkan pesan dan catatan lengkap tentang daftar dan harga. Sebagian besar lainnya sama sekali tidak meninggalkan catatan apapun sehingga penerus yang awam dan buta harga menjual barang2 tsb dengan harga seenaknya.

Ada satu contoh kolektor yang benar2 rapi dalam menyusun uang-uang koleksinya, kita lihat yuk:

Puluhan album uang kertas miliknya



Buku berisi daftar lengkap koleksinya




Beberapa contoh halaman, berisi keterangan jenis uang, nomor seri, kondisi dan harga
Bahkan tiap album diberikan nomor

Dengan catatan yang jelas dan rapi kita jadi mengetahui jenis2 uang yang sudah kita miliki, kondisi serta harganya. Bila perlu tambahkan juga tanggal beli dan beberapa keterangan lainnya. Catatan yang rapi juga menunjukkan bahwa kita bukan seorang kolektor asal-asalan yang cuma bisa beli dan tumpuk. Selain itu catatan juga sangat berguna dan bisa dijadikan pegangan bagi anak cucu kita bila nanti kita pindah ke alam lain.

Gambar berikutnya kebalikan dari yang di atas, adalah penawaran dari buyut seorang ex kolektor besar yang barangnya super berantakan, sy lampirkan dua fotonya :


Ratusan lembar uang kertas super langka (diantaranya ada seri gedung 20, 30 dan 40 Gulden, Coen Mercurius 100, 200  Gulden, seri bingkai 10, 25 dan 50 Gulden, puluhan lembar seri munbiljet 1919-1920, puluhan lembar seri Coen I, berlembar-lembar seri bingkai I  dll, semua issued) ditumpuk sembarangan, dibawa dalam kardus ke Malaysia untuk dilepas disana. Untung berhasil saya bujuk dan dibawa kembali ke tanah air.


Dengan penyimpanan yang sembarangan tanpa catatan yang baik, jangan heran bila anak cucu kita akan menganggapnya sampah dan dijual dengan harga yang juga sembarangan. Dari kedua kasus di atas kita bisa melihat 2 contoh extrim, yang satu terlalu rapi sedangkan yang satu terlalu berantakan. Saya yakin sebagian besar dari anda akan berada diantaranya. Karena itu mari kita bahas bersama apa yang terjadi pada uang2 koleksi anda nantinya...

Bila anda masih hidup dan anda memutuskan pensiun atau berhenti menjadi kolektor :

A. Anda bisa menjual sebagian atau seluruh koleksi anda. Bisa melalui lelang, titip ke penjual, borongan ke kolektor lain, dll. Bila opsi ini yang dipilih, anda harus kuat mental dan tidak boleh ada penyesalan. Jangan merasa sayang bila koleksi anda berpindah tangan ke orang lain. Sebagai imbalan anda akan mendapatkan uang tunai yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan termasuk untuk mencari hobi lain atau bahkan untuk kawin lagi. Menurut saya opsi ini yang paling baik, mencari hobi lain yang lebih sehat maksudnya, bukan untuk yang kawin lagi (walaupun yang ini tampaknya juga mengasyikan).

B. Bila tidak rela koleksi anda dijual, anda bisa menghibahkan sebagian atau seluruhnya kepada museum misalnya, atau kepada teman/sesama kolektor yang lebih muda dan yang bisa menghargai koleksi anda. Walaupun terdengar aneh tetapi saya pernah mendapatkan hibah dari seorang kolektor berupa uang2 kuno senilai ratusan juta rupiah. Setelah bertahun-tahun, semua uang2 kuno tersebut tetap saya simpan dengan baik.



Anda tidak berniat untuk menjualnya, mungkin karena terlalu sayang, anda memutuskan untuk mewariskan ke anak cucu. Lalu anda meninggal, yang kemudian terjadi adalah :

a. Yang paling anda harapkan adalah anak cucu anda kebetulan memiliki hobi yang sama, maka terberkatilah mereka mendapatkan warisan dari anda. Tetapi pada kenyataannya selama ini, dari sekian banyak kolektor, saya hanya menemukan 1-2 kasus saja dimana seorang anak atau cucu memiliki hobi yang sama dengan orang tuanya. Kejadian yang ideal ini sangat kecil kemungkinannya karena hobi numismatik adalah hobi yang sangat langka. Sejak jaman SD era 1970an saya sudah mengumpulkan uang-uang kuno tetapi sampai saya lulus jadi sarjana tidak ada satupun dari ratusan teman sekolah atau kuliah yang memiliki hobi yang sama. Mereka malah terheran-heran dengan hobi saya.

b. Harapan berikutnya adalah semoga anak cucu anda akan menyimpan, menjadikannya hobi mereka. Kenyataannya apa kata mereka: Hobi kok diwariskan? Uang gak laku kok diwariskan ke saya? Hobi itu sifatnya individual, masing2 orang memiliki hobi yang sangat berbeda dan tidak bisa dipaksakan. Dengan mewariskan hobi ke anak cucu, justru  akan merepotkan dan memberatkan mereka. Dijual takut kualat, diteruskan kok rasanya gak nyambung, disimpan cuma makan tempat. Akhirnya pelan-pelan barang2 peninggalan anda akan menguap entah dijadikan mainan monopoli oleh cicit anda, dicuri temannya atau pembantu, digunting-gunting untuk dijadikan prakarya (saya pernah mendapatkan kasus, satu lembar uang Coen Mercurius 500 Gulden digunting gambarnya untuk dijadikan tugas sekolah) bisa juga dijadikan sarapan oleh rayap, hanyut terkena banjir,  dan berjuta alasan lainnya. Seandainyapun warisan anda selamat sampai 5 turunan, maka turunan ke 6 atau ke 7, cepat atau lambat, pasti akan menjual semuanya. Kebutuhan akan uang yang masih berlaku tentu melebihi semuanya.

Jadi bagaimana langkah selanjutnya?

Menurut saya pribadi, langkah yang terbaik adalah :
1. Hobi bersifat individual yaitu untuk kesenangan pribadi, dengan menekuninya secara bijak bisa menghasilkan banyak keuntungan. Mengisi waktu luang, membina teman dan relasi, menambah pengetahuan  sampai mendatangkan keuntungan dll yang pada ujung-ujungnya akan meningkatkan kualitas hidup kita.

2. Kita harus menekuni hobi kita dengan baik. menyimpan, merawat dan mencatat semuanya. Sehingga kita tetap ingat dengan apa yang telah kita miliki, baik jenisnya, harganya, kualitasnya  dan kesulitan dalam mendapatkannya.  Bukan hanya mengingat yang belum kita miliki.

Saya sendiri memiliki catatan lengkap tentang semua uang2 yang berhasil saya dapatkan berupa scan gambar, tanggal mendapatkan, harga dan dari mana asalnya. Saya lempirkan beberapa contoh halamannya :

1 Desember 2011, saya memenangkan lelang di Spink Inggris berupa 2 lembar uang Diponegoro 5000 dan 10000 Rupiah SPECIMEN dengan stempel TDLR yang super langka seharga  Rp18.000.000. Sebelumnya pada tanggal 29 November 2011 saya bertemu dengan seorang office boy BI yang membawa sebuah test note Affandi dan selembar 10ribu edisi lama (2004) yang tidak ada nomor serinya (mungkin termasuk salah cetak) seharga Rp250.000 untuk keduanya.


13 Mei 2012, Seorang ibu bernama Irma menelpon saya dan menawarkan satu set uang NNG dan Irba yang disimpan oleh ayahnya seorang pejuang Trikora. Uang2 tsb merupakan gaji pertama ayahnya dan disimpan sebagai kenang-kenangan.

24 Oktober 2012, menang lelang di Ebay berupa  2 lembar uang bingkai 10 Gulden dan NICA 25 Gulden variasi tersulit (5 angka tanpa suffix), setelah bertempur dengan dahsyat, keduanya bisa saya tebus seharga Rp.16.100.000. Uang tersebut masih saya simpan sampai sekarang. 

8 November 2012, saya memborong satu album ex kolektor dari Kebumen seharga Rp3,5 juta. 
Isinya berupa 42 lembar uang kertas yang saya perinci satu persatu.

1 Februari 2013, menang lelang Stack's Bowers berupa 44 lembar uang kertas seharga Rp.15,2 juta, masing2 jenis diperinci nomor serinya dan kualitasnya. Lot ini sempat bermasalah karena nyangkut di bea cukai bandara Sukarno Hatta dan baru selesai setelah beberapa bulan di tahan.


Demikian seterusnya, daftar yang saya buat lengkap termasuk  fakturnya dari sejak saya jadi kolektor sampai dengan sekarang. 
Contoh terakhir yang saya tampilkan  yaitu tanggal 19 Juni 2017 dimana saya mendapatkan 6  lembar uang 1946-1952 yang semuanya di stempel TIDAK BERLAKU. Kisah tentang stempel ini akan diceritakan dilain waktu. 

6 lembar uang yang di stempel TIDAK BERLAKU, menarik dan langka.

Contoh faktur sewaktu mengikuti lelang ANI tahun 2006, saya memenangkan 15 lot senilai hampir 9 juta rupiah. Sebenarnya yang diincar cuma Federal 1000 Gulden ex KUKI dan sepasang Federal 25 Gulden hijau urut nomor UNC. Lot lainnya cuma  sampingan saja.

Contoh faktur dari Collectplaza, balai lelang dari Belanda tahun 2005. Saya memenangkan 4 lot yaitu wayang 100 Gulden (2 lembar), 1 Gulden munbiljet 1940 proof ( beda gambar) dan Rp1000 seri bunga 1959 sebagai penggembira. Perhatikan harga wayang 100 Gulden saat itu masih dikisaran 350 Euro (sekitar Rp.4,5 jutaan)  sama dengan harga munbiljetnya, dan harga bunga 1000 UNC hanya di 10 Euro (Rp.150 ribu)
  

Dengan dokumentasi yang lengkap kita jadi mengenal koleksi kita, dengan mempelajarinya kita jadi mengenal lebih mendalam lagi. Akhirnya hobi kita bukan hanya sekedar beli simpan saja tetapi menjadi lebih bermanfaat, menambah pengetahuan dan pengalaman sehingga  menambah kualitas hidup kita. Ingat dengan hobi kita ingin menambah umur kita, bukan sebaliknya.

Karena itu mumpung kita masih hidup, jalani hobi kita dengan baik, dan pada saatnya nanti, tentunya sebelum terlambat, janganlah hobi kita dijadikan beban. Lepaslah semuanya dengan legowo, jangan paksa untuk diwariskan kecuali anak/cucu  anda yang minta.
Singkatnya hobi kita ya untuk kita... Bukan untuk orang lain.
Demikian renungan singkat, semoga bisa membuka dan menambah wawasan kita semua.




Jakarta 21 Juli 2023
Saran dan kritik hubungi 08159988188 atau email: arifindr@gmail.com

 

No comments: